Disfungsi Seksual Wanita Disebabkan Kontrasepsi

Kontrasepsi hormonal yang digunakan oleh wanita, baik yang digunakan dengan cara diminum maupun yang bukan, memiliki risiko tertinggi terhadap disfungsi seksual wanita. Hal ini dijelaskan dalam penelitian mahasiswi kedokteran Jerman yang diterbitkan dalam The Journal of Sexual Medicine.

Menariknya, kontrasepsi nonhormonal justru memiliki risiko disfungsi seksual terkecil, juga bila dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan alat kontrasepsi.

Kontrasepsi hormonal adalah alat kontrasepsi yang bertujuan mencegah kehamilan yang terbuat dari bahan baku yang mengandung hormon estrogen dan progestin. Contoh kontrasepsi hormonal adalah pil KB, suntik KB, dan susuk KB (implant). Sedangkan contoh kontrasepsi non hormonal adalah Intra Uterine Device (IUD) dan kondom.

“Masalah seksual, tanpa melihat faktor usia, dapat memberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup dan kesehatan emosi,” kata peneliti Dr. Lisa-Maria Wallwiener dari Universitas Heidelberg, Jerman. “Disfungsi seksual pada wanita adalah penyakit yang umum, di mana dua dari lima wanita memiliki setidaknya satu jenis disfungsi seksual, dan keluhan yang paling banyak terjadi adalah rendahnya gairah seksual.

“Penyebab disfungsi seksual pada wanita beragam dan belakangan ini banyak dibahas mengenai kemungkinan kontrasepsi hormonal sebagai salah satu penyebabnya,” kata anggota penelitian Dr. Christian dan Markus Wallwiener dari Universitas Tuebingen, Jerman. “Wanita sadar bahwa disfungsi seksual sering dipengaruhi oleh banyak faktor seperti stres dan jenis hubungan, namun penelitian kami menunjukkan bahwa disfungsi seksual bisa saja dipengaruhi oleh hormon yang disebabkan oleh faktor eksternal.”

Penelitian ini melibatkan 1.086 wanita (sekitar 2,5 persen dari jumlah seluruh mahasiswi kedokteran di Jerman), yang mengisi kuisioner yang dirancang untuk mengidentifikasi masalah yang berhubungan dengan fungsi seksual, seperti juga faktor gaya hidup antara lain keinginan memiliki anak, kehamilan, dan apakah wanita-wanita itu perokok. Sebanyak 87,4 persen menggunakan alat kontrasepsi dalam enam bulan terakhir dan 97,3 persen aktif melakukan kegiatan seksual dalam empat minggu terakhir.

Untuk menganalisis efek dari kontrasepsi terhadap fungsi seksual, wanita-wanita yang diteliti menggunakan beberapa jenis alat kontrasepsi. Sedangkan yang tidak melakukan kegiatan seksual secara aktif dalam empat minggu ini dikeluarkan dari kelompok, jumlahnya 1.046 wanita. Dari jumlah ini, 32,4 persen dianggap berisiko mengalami disfungsi seksual, 5,8 persen berisiko tinggi memiliki kelainan gairah seksual yang rendah, 1 persen mengalami kelainan rangsangan, 1,2 persen mengalami kekurangan minyak pelicin, 8,7 persen mengalami kelainan orgasme, 2,6 persen mengalami masalah kepuasan, dan 1, 1 persen mengalami kesakitan saat berhubungan.

Wanita yang diteliti kemudian dibagi menjadi empat kelompok yaitu yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal yang diminum/oral (KHO), yang menggunakan kontrasepsi hormonal yang tidak diminum/non-oral (KHNO), yang menggunakan kontrasepsi nonhormonal (KNH), dan yang tidak menggunakan alat kontrasepsi (NK).

Kelompok yang memiliki risiko disfungsi seksual terendah (artinya mendapat nilai fungsi seksual tertinggi) adalah kelompok yang mengunakan kontrasepsi nonhormonal (mendapat nilai 31), diikuti oleh wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi (mendapat nilai 29,5) dan wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal yang diminum (mendapat nilai 28,3). Sedangkan wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal yang tidak diminum (mendapat nilai 27,4) memiliki risiko disfungsi seksual tertinggi.

Untuk masalah kelainan gairah dan rangsangan seksual, kelompok wanita yang memiliki risiko tertinggi adalah wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal, baik yang diminum maupun yang tidak.

Metode kontrasepsi dan kebiasaan merokok merupakan faktor penting untuk menghitung nilai total fungsi seksual. Perokok mencatat nilai disfungsi seksual yang lebih tinggi dibanding wanita yang tidak merokok. Faktor lain seperti usia, pengalaman pernah melahirkan, keinginan untuk memiliki anak, dan status hubungan merupakan faktor yang tidak penting dalam menghitung nilai disfungsi. Wanita yang memiliki hubungan yang tidak stabil (dengan mengesampingkan penggunaan kontrasepsi) memiliki gairah yang lebih tinggi namun mendapat nilai orgasme yang rendah.

“Untuk penelitian selanjutnya, akan lebih menarik untuk meneliti perbedaan dosis estrogen dan beragam hormon progestin sintetis yang digunakan dalam kontrasepsi hormonal untuk melihat dampak terhadap fungsi seksual wanita,” kata peneliti dari universitas yang sama, Dr. Harald Seeger.

“Kami juga akan meminta agar hasil penelitian kami diinterpretasikan dengan hati-hati. Kami juga menekankan bahwa penelitian seperti ini tidak dapat menunjukkan hubungan sebab akibat, namun lebih ke penggabungan dan mungkin saja ada banyak faktor yang memiliki pengaruh terhadap fungsi seksual wanita,” kata Harald.

“Ini adalah investigasi penelitian yang penting,” kata Dr. Irwin Goldstein, pemimpin redaksi Journal of Sexual Medicine. Ada ratusan juta wanita, khususnya wanita muda yang memulai kehidupan seksual mereka, yang secara teratur menggunakan kontrasepsi hormonal selama bertahun-tahun. Ironisnya, wanita-wanita disuguhi banyak pengobatan yang dapat menghilangkan kekhawatiran untuk hamil, namun mereka tidak diberi informasi penting mengenai efek seksual yang merugikan yang mungkin terjadi.

”Alat-alat yang mempengaruhi hormon wanita dapat memberi dampak yang merugikan terhadap kehidupan seksual mereka.(tempointeraktif.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2011 Kesehatan dan Kecantikan
Designed by MutiarabhuanaPowered by Blogger